AS dan Eropa Bahas Teknologi Rekayasa Radiasi Surya

AS dan Eropa Bahas Teknologi Rekayasa Radiasi Surya - BeritaLia.com

Wacana penggunaan teknologi rekayasa iklim untuk mengurangi dampak pemanasan global mulai mendapat perhatian di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Salah satu konsep yang dibahas adalah solar geoengineering atau solar radiation modification (SRM), yakni upaya memantulkan sebagian radiasi matahari kembali ke angkasa untuk menurunkan suhu bumi.

Laporan Politico pada Rabu (23/9), yang mengutip dua mantan pejabat pemerintah, menyebut sejumlah politisi di AS dan Uni Eropa tengah mempertimbangkan kemungkinan teknologi tersebut sebagai bagian dari pembahasan menghadapi kenaikan suhu global.

Konsep SRM mencakup sejumlah pendekatan, termasuk stratospheric aerosol injection (SAI), yakni penyebaran partikel aerosol di lapisan stratosfer untuk memantulkan sebagian sinar matahari. UNEP menyebut teknologi ini masih bersifat spekulatif dan sebagian besar pengembangannya berada pada tahap pemodelan, simulasi, serta penelitian.

Pembahasan mengenai teknologi tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap potensi dampaknya. UNEP mencatat bahwa SRM dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan terhadap pola iklim, keanekaragaman hayati, sistem hidrologi, serta lapisan ozon. Ketidakpastian ilmiah mengenai dampak penerapan berskala besar juga masih cukup tinggi.

Risiko terhadap lapisan ozon menjadi salah satu perhatian dalam penelitian SRM. Kajian di bawah kerangka perlindungan ozon internasional juga menyoroti perlunya memahami kemungkinan pengaruh solar radiation modification, khususnya SAI, terhadap kimia dan kondisi lapisan ozon.

Di sisi lain, teknologi tersebut tidak menghilangkan sumber utama perubahan iklim, yakni tingginya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. UNEP menegaskan SRM tidak mengurangi emisi maupun konsentrasi gas rumah kaca sehingga tidak dapat menggantikan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Meski masih kontroversial, perhatian terhadap teknologi ini terus berkembang seiring meningkatnya penelitian dan pembahasan mengenai kemungkinan penggunaannya. UNEP dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga telah menggelar dialog ilmiah untuk membahas perkembangan riset, risiko lingkungan, aspek sosial, serta tantangan tata kelola SRM.

Dengan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi, UNEP menilai penelitian mengenai SRM membutuhkan kehati-hatian, transparansi, dan pembahasan internasional yang inklusif. Teknologi tersebut saat ini masih menjadi bagian dari perdebatan ilmiah dan kebijakan, bukan solusi yang telah siap diterapkan secara luas.

Website |  + posts

Kontributor editorial yang aktif membahas teknologi, startup, dan inovasi digital terkini.